Perubahan nama Halte Senen Sentral menjadi halte Jaga Jakarta oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pasca kerusuhan pada Agustus 2025 menarik untuk diteliti karena mengandung makna simbolik dan politis di balik kebijakan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberitaan Detik.com mengenai perubahan nama halte tersebut menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Metode yang digunakan adalah kualitatif deksriptif dengan sumber data berupa tiga artikel berita yang diterbitkan Detik.com pada 8-9 September 2025. Analisis dilakukan menggunakan tiga dimensi utama Fairclugh, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Detik.com membingkai perubahan nama halte sebagai simbol solidaritas dan ajakan moral bagi masyarakat untuk menjaga kota, sekaligus sebagai bentuk legitamasi politik pemerintah. Media digital berperan penting dalam membentuk persepsi publik dan memperkuat citra pemerintah melalui penggunaan bahasa simbolik. Penelitan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian komunikasi politik khususnya dalam memahami peran media digital sebagai ruang produksi makna dan praktik komunikasi simbolik pada konteks komunikasi terapan. Kata Kunci: analisis wacana kritis, komunikasi politik, media daring, halte transjakarta, simbol politik
Copyrights © 2026