Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui secara komprehensif keberadaan kepemimpinan Jojao dan keterampilannya dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Misool Barat Kepulauan Raja Ampat. Merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma fenomenologi sosial. Pengumpulan data dengan melakukan observasi partisipatoris pasif, indept interview dan dokumentasi. Tehnik analisa data menggunakan model alir dari Milles B. Huberman. Hasil penelitian: Pemilihan pemimpin adat Jojao pada masyarakat Mat Bat bersifat pewarisan (Ascription), terdapat keunikan yaitu diberikan pada warga Kampung Gamta bermarga/fam Wihel secara turun temurun yang beragama Islam, yang ditentukan oleh masyarakat Mat Bat marga/fam lain yang ada di Kampung Magei yang beragama Kristiani. Tradisi dilakukan turun temurun, merupakan kemampuan masyarakat menciptakan, memelihara, mempertahankan makna, di dalamnya terdapat keyakinan, pengetahuan, kebiasaan dan pemahaman dalam mengembangkan interaksi dan tindakan bersama dalam mempersatukan masyarakat untuk menjaga kerukunan, memperkuat struktur adat yang terdapat tugas dan fungsi masing-masing marga/fam/klain. Partisipasi Jojao pada kegiatan adat untuk meningkatkan persaudaraan, memotivasi dan membangkitkan perasaan individu untuk berpartisipasi. Jojao memiliki kekuasaan mempersatukan dan mempertahankan wilayahnya. Kemampuan Jojao menjaga toleransi umat beragama melalui aktifitas bersama berupa tradisi rutin atau kegiatan yang melibatkan kedua Kampung. Interaksi bersama menimbulkan pemahaman tentang hidup bersama dalam bingkai toleransi beragama, dalam menyatukan perbedaan pada masyarakat. Penerapan aturan adat sebagai ketaatan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat adat.
Copyrights © 2026