Penelitian ini mengkaji praktik tradisi Soku Ja’dha, yaitu larangan mengonsumsi nasi bagi ibu pascamelahirkan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Woloare A, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus sebagai cara untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi pascapersalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan tradisi Soku Ja’dha, menganalisis kandungan gizi makanan yang diperbolehkan selama masa pantang, serta menelusuri peluang pemanfaatannya sebagai bahan ajar kontekstual dalam pembelajaran biologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta telaah pustaka. Temuan penelitian mengungkap bahwa dalam tradisi Soku Ja’dha, ibu yang baru melahirkan dilarang mengonsumsi nasi, daging, serta beberapa jenis sayuran. Sebagai alternatif, makanan yang diperkenankan—antara lain daun ubi kayu, jagung, ikan tembang, pepaya, sawo, dan alpukat—mengandung berbagai nutrisi penting, seperti protein nabati, zat besi, vitamin A dan C, serta omega-3, yang berperan dalam proses pemulihan dan mendukung produksi ASI. Meskipun tidak sepenuhnya selaras dengan prinsip medis modern, praktik ini dapat dipahami secara ilmiah dan berkontribusi pada kesehatan ibu jika diterapkan dengan bijak. Selain itu, tradisi ini memiliki nilai edukatif yang tinggi karena dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran biologi untuk menjelaskan topik nutrisi, sistem reproduksi, dan fisiologi manusia secara kontekstual. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan kearifan lokal sebagai pendekatan etnopedagogi dalam pendidikan sains di Indonesia.
Copyrights © 2026