Cerita rakyat Kaili di Sulawesi Tengah menghadapi ancaman kepunahan seiring melemahnya transmisi lisan antargenerasi, sementara dokumentasi dan kajian akademis atasnya masih sangat terbatas dibandingkan tradisi Jawa, Sunda, maupun Bugis–Makassar. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi dan menganalisis nilai-nilai etnopedagogis yang terkandung dalam legenda Putri Yamamore dari tradisi Kaili–Towale, dengan menempatkan konten cerita sebagai data pedagogis alih-alih sekadar data sastra. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi cerita-rakyat-sebagai-teks (folklore-as-text) dan analisis isi terhadap transkrip cerita yang dikumpulkan dari informan kunci. Analisis tematik-etnopedagogis diterapkan melalui prosedur reduksi data, kategorisasi, dan interpretasi, kemudian divalidasi melalui triangulasi sumber, investigator, dan metode dengan tokoh adat serta dokumentasi lapangan. Temuan menunjukkan bahwa legenda ini mengandung lima kategori nilai—integritas, resolusi konflik/perdamaian, kepemimpinan, ketangguhan, dan pengetahuan ekologis—yang termanifestasi melalui perilaku tokoh, motif naratif, serta mitos petrifikasi dan asal-usul mata air sebagai penanda etiologis-ekologis. Kebaruan penelitian terletak pada pembacaan kritis bahwa kelima tema tersebut memuat sistem nilai yang saling bersaing (competing value systems), bukan semata komplementer, sehingga polivokalitas justru menjadi ciri hakiki tradisi naratif lisan. Penelitian ini berimplikasi pada penyediaan bahan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Sulawesi Tengah dan pelestarian sastra lisan Kaili yang terancam punah.
Copyrights © 2026