Fenomena Artificial Intelligence (AI) menghadirkan tantangan mendasar bagi hidup beragama. AI menantang fondasi religiositas manusia pada tiga ranah yaitu otoritas kebenaran, makna keberadaan, dan relasi dengan Yang Transenden. Nick Bostrom menunjukkan bahwa kemungkinan hadirnya superintelligence dapat mengguncang posisi istimewa manusia dalam kosmos. Jika kecerdasan tidak lagi menjadi ciri pembeda manusia, bagaimana iman memaknai kembali martabat dan tanggung jawabnya? Sementara itu, Yuval Noah Harari membaca munculnya “dataisme” sebagai kecenderungan baru yang mempercayakan kebenaran pada algoritma, seolah-olah suara ilahi digantikan oleh kalkulasi digital. Berhadapan dengan itu, John D. Caputo mengingatkan bahwa iman bukanlah kepastian teknis, melainkan sebuah tanggapan terhadap panggilan yang tak dapat direduksi oleh kalkulasi rasional. Kehadiran AI membawa disrupsi yang memaksa kita melihat kembali apa artinya menjadi “mahkluk beragama” atau menjadi ‘religius”. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah (1) tantangan mendasar orang beragama menghadapi berkembangnya Artificial Intelligence saat ini, (2) sikap kritis dan sikap iman seperti apa yang diperlukan berhadapan dengan tantangan tersebut. Sebagai kajian Filasafat Agama, penelitian ini menggunakan metode studi pusataka yang secara bertahap mengnaliasa secara kritis kedua tujuan penelitian di atas.
Copyrights © 2026