Masalah gizi terjadi selama transisi dari masa remaja ke dewasa, termasuk penurunan kadar hemoglobin dan malnutrisi. Siswa perempuan di asrama Islam yang berpuasa mengalami penurunan frekuensi makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari, tanpa camilan di antaranya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan kadar hemoglobin dan status gizi antara siswa asrama Islam yang berpuasa Senin-Kamis dan yang tidak berpuasa. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan purposive sampling, melibatkan 88 responden, yang dikategorikan menjadi dua kelompok: individu yang berpuasa Senin-Kamis dan yang tidak berpuasa. Data primer kadar hemoglobin diukur menggunakan alat easy touch gchb, data primer status gizi diperoleh melalui pengukuran tinggi dan berat badan, dan kebiasaan makan menggunakan kuesioner SQ-FFQ selama tiga bulan terakhir, yang dilakukan selama dua minggu pada bulan Februari 2025. Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan pada kadar hemoglobin antara kelompok yang berpuasa Senin-Kamis selama dua bulan terakhir (6 kali) dan kelompok yang tidak berpuasa, dengan mayoritas mahasantri memiliki kadar hemoglobin normal p= 0,002 (p< 0,05). Namun, tidak ada perbedaan signifikan pada status gizi antara siswa yang berpuasa dan yang tidak berpuasa, dengan p= 0,161 (p > 0,05). Kesimpulannya, terdapat perbedaan signifikan pada kadar hemoglobin antara siswa yang berpuasa Senin-Kamis selama dua bulan terakhir (6 kali) dan yang tidak berpuasa, sedangkan tidak ditemukan perbedaan signifikan pada status gizi antara kedua kelompok tersebut.
Copyrights © 2026