Pendidikan di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses teknologi, minimnya media pembelajaran, dan rendahnya kemampuan literasi siswa. Sebagian besar inovasi pendidikan saat ini lebih berorientasi pada teknologi tinggi sehingga sulit diterapkan pada sekolah-sekolah di daerah terpencil. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pembelajaran low-tech berbasis tradisi tutur lokal melalui storytelling komunitas pada pembelajaran bahasa siswa sekolah dasar di daerah 3T. Penelitian menggunakan pendekatan Design-Based Research (DBR) yang terdiri atas tahap analisis masalah, desain sistem, implementasi, serta evaluasi dan revisi desain. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan refleksi pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa storytelling komunitas mampu menjadi sistem pembelajaran bahasa yang kontekstual, murah, adaptif, dan relevan dengan kehidupan siswa. Pembelajaran berbasis tradisi tutur lokal tidak hanya meningkatkan kemampuan berbicara dan menyimak siswa, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan. Penelitian ini menghasilkan prinsip desain pembelajaran low-tech berbasis budaya yang dapat diterapkan pada berbagai konteks pendidikan di wilayah 3T.
Copyrights © 2026