Krisis eksistensial dan kebangkrutan spiritual masyarakat modern pada dekade ketiga abad ke-21 menyingkap keterbatasan paradigma psikologi sekuler Barat. Meskipun Abraham Maslow menggagas teori Self-Transcendence sebagai puncak hierarki kebutuhan, konsep tersebut mengidap bias antroposentrisme-sekuler yang mereduksi pengalaman transendental sebatas sensasi psikologis sesaat tanpa jangkar teologis yang personal, sehingga rawan terjebak pada eskapisme spiritual (spiritual bypassing). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonstruksi epistemologis terhadap teori Self-Transcendence Maslow dengan memosisikan karakteristik Ulul Albab yang bersumber dari Surah Ali 'Imran ayat 190–191 sebagai matriks fondasinya. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan Redesain Integrasi-Kritik, riset ini merombak struktur internal teori konvensional tersebut dengan menempatkan pandangan hidup Islam (Islamic worldview) sebagai acuan evaluatif tertinggi. Hasil penelitian memformulasikan sebuah konsep orisinal baru yang disebut Model Transendensi Teo-Sains. Model ini merekonstruksi tiga dimensi fundamental: (1) mentransformasikan peak experiences menjadi ekstase intelektual-spiritual melalui dialektika simultan antara dzikr (kesadaran teologis) dan fikr (riset ilmiah atas sunnatullah); (2) menyelesaikan dikotomi sains dan agama dengan memosisikan aktivitas ilmiah (ayat kauniyah) sebagai tangga metodologis menuju Tuhan dan wahyu (ayat qauliyah) sebagai kompas moral; serta (3) menggeser orientasi aksiologis dari kepuasan personal pasif menjadi tanggung jawab sosial kekhalifahan (khil?fah) demi kemaslahatan publik (ma?la?ah) yang dikunci oleh akuntabilitas eskatologis (faqin? ‘a??ban-n?r). Rekonstruksi teoretis ini berimplikasi penting bagi pengembangan kurikulum pendidikan yang holistik dan kajian tafsir al-Qur’an dengan tema-tema psikologi.
Copyrights © 2026