Perkembangan teknologi digital memunculkan praktik sleep call sebagai bentuk companionship virtual berbasis suara, yang kemudian terkomodifikasi menjadi layanan berbayar. Layanan ini menuntut pekerja (talent) untuk mengelola emosi secara profesional guna menghadirkan kenyamanan bagi klien, namun perspektif pekerja dalam praktik ini masih jarang dikaji. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman emotional labor pekerja jasa sleep call dalam interaksi dengan klien, menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap delapan informan (talent agensi, independen, dan mantan talent) yang dipilih secara purposive, dianalisis menggunakan kerangka emotional labor Hochschild. Hasil penelitian menunjukkan talent melakukan surface acting dan deep acting disertai emotional dissonance yang memudar seiring pengalaman. Feeling rules bersumber dari aturan institusional dan pribadi, dengan talent independen lebih rentan terhadap pelanggaran batas. Kebutuhan emosional klien yang beragam serta interaksi berulang memunculkan kedekatan emosional yang dapat melampaui batas profesional, dengan dampak dua arah: kelelahan emosional sekaligus peningkatan kepekaan dan kemampuan komunikasi talent.
Copyrights © 2026