Praktik pendudukan dan okupasi Israel di Palestina masih menjadi perhatian masyarakat internasional dan memicu berbagai aksi solidaritas global. Di tengah eskalasi konflik tersebut, media sosial berkembang menjadi ruang kontestasi berbagai kepentingan politik, termasuk melalui strategi propaganda digital. Salah satu strategi yang digunakan Israel adalah pinkwashing, yaitu pemanfaatan isu keberagaman identitas gender dan orientasi seksual untuk membangun citra sebagai negara yang modern, demokratis, dan ramah terhadap komunitas LGBTQ+, sekaligus merepresentasikan Palestina sebagai masyarakat yang intoleran dan homofobik. Narasi tersebut dinilai mengeksploitasi hak-hak kelompok LGBTQ+ untuk memperoleh legitimasi moral serta mengalihkan perhatian masyarakat internasional dari praktik pendudukan, pelanggaran hak asasi manusia, dan krisis kemanusiaan di Palestina. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui kajian terhadap literatur mengenai propaganda, pinkwashing, Brand Israel, homonasionalisme Jasbir Puar, serta berbagai penelitian yang membahas strategi komunikasi politik Israel di media digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa narasi pinkwashing merupakan bagian dari strategi komunikasi politik yang mengonstruksikan Israel sebagai negara progresif dan inklusif, sementara Palestina diposisikan sebagai masyarakat yang terbelakang, intoleran, dan anti-LGBTQ+. Strategi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai upaya pencitraan, tetapi juga sebagai propaganda digital untuk membentuk opini publik global dan memperoleh legitimasi politik di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Copyrights © 2026