Penelitian ini mengkaji fenomena penggunaan istilah “Cina” dan “Tiongkok” dalam pemberitaan media online Indonesia, khususnya pada kasus berita Tribunnews.com mengenai respons Tiongkok terhadap konflik Iran. Latar belakang penelitian berangkat dari dinamika kebijakan bahasa di Indonesia, mulai dari Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera 1967 hingga Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 yang menetapkan istilah “Tiongkok” sebagai rujukan resmi. Dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, penelitian ini menganalisis teks berita melalui teknik dokumentasi dan analisis isi, serta mengintegrasikan teori variasi bahasa Chaer dan Agustina dengan teori kebijakan bahasa Bernard Spolsky. Hasil penelitian menunjukkan dominasi penggunaan istilah “Cina” sebanyak 12 kali, sementara istilah “Tiongkok” hanya muncul sekali. Temuan ini mengindikasikan bahwa media masih mempertahankan praktik kebahasaan lama, meskipun kebijakan resmi telah berubah. Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa pilihan istilah tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga mencerminkan praktik bahasa, ideologi, dan manajemen bahasa dalam ruang publik. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis bagi kajian sosiolinguistik dan kebijakan bahasa, serta mendorong konsistensi media dalam penerapan istilah sesuai kebijakan resmi.
Copyrights © 2026