Artikel ini menelaah pemahaman teologi Roh Kudus dalam Pengakuan Iman Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) serta relevansinya terhadap spiritualitas gereja lokal. Melalui pendekatan teologis-biblis dan kajian pustaka, penelitian ini menelusuri konsep Roh Kudus sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab dan dirumuskan dalam Pengakuan Iman GPdI. Hasil kajian menunjukkan bahwa Roh Kudus dipahami sebagai Pribadi ilahi yang aktif dalam kelahiran baru, baptisan Roh Kudus, karunia-karunia rohani, dan pengudusan hidup. Pemahaman ini mencerminkan keseimbangan antara pengalaman kuasa (power experience) dan transformasi karakter (holy living). Sejalan dengan Horton (1994), baptisan Roh Kudus dipahami bukan sekadar tanda pengalaman rohani, melainkan sarana Allah untuk memperlengkapi orang percaya dalam pelayanan yang efektif. Sementara itu, Ervin (1984) menegaskan pentingnya pengalaman Roh Kudus yang sejati sebagai wujud relasi personal dengan Allah yang menghasilkan ketaatan dan kesucian hidup. Dengan demikian, teologi Roh Kudus dalam Pengakuan Iman GPdI tidak hanya menegaskan keilahian Roh Kudus secara doktrinal, tetapi juga memiliki implikasi praktis bagi spiritualitas gereja lokal—mendorong ibadah yang dinamis, pelayanan yang berkuasa, dan karakter jemaat yang serupa dengan Kristus.Â
Copyrights © 2026