Pendeta perempuan dalam pelayanan gereja sering menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan tugas pelayanan, tetapi juga kehidupan pribadi dan keluarga. Mereka menghadapi beban ganda sebagai pelayan gereja sekaligus istri dan ibu, tuntutan sosial yang dipengaruhi konstruksi gender, serta berbagai pergumulan emosional yang dapat memengaruhi keberlangsungan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman pendeta perempuan dalam menjalankan pelayanan, mengidentifikasi kebutuhan mereka terhadap pendampingan dan konseling pastoral, serta memahami bentuk pendampingan yang sesuai dengan konteks pelayanan di GKST Klasis Mangkutana-Tomoni. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap empat pendeta perempuan yang aktif melayani di wilayah GKST Klasis Mangkutana-Tomoni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendeta perempuan menghadapi berbagai tantangan, seperti beban ganda, tekanan pelayanan, persoalan keluarga, kehilangan pasangan hidup, serta penempatan pelayanan yang berjauhan dengan keluarga. Di tengah berbagai tantangan tersebut, dukungan keluarga, jemaat, rekan pelayanan, dan kehidupan spiritual menjadi sumber kekuatan utama dalam menjalankan pelayanan. Penelitian ini juga menemukan bahwa pendeta perempuan membutuhkan ruang yang aman untuk didengar, dipahami, diterima, dan didampingi, sementara hingga saat ini belum terdapat sistem pendampingan dan konseling pastoral yang secara khusus ditujukan bagi mereka. Oleh karena itu, gereja perlu mengembangkan program pendampingan dan konseling pastoral yang terstruktur, kontekstual, dan berkelanjutan guna mendukung kesehatan emosional, spiritual, dan keberlangsungan pelayanan pendeta perempuan. Kata Kunci: Pendeta perempuan, pendampingan pastoral, konseling pastoral
Copyrights © 2026