Generasi Z merupakan kelompok yang menghadapi tantangan psikologis signifikan di tengah perubahan sosial yang cepat dan tekanan era digital. Tingginya prevalensi kecemasan, depresi, serta krisis kesehatan mental menunjukkan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pendukung utama. Namun, relasi orang tua–anak pada Generasi Z kerap diwarnai luka emosional akibat pola asuh otoriter, kurang empati, dan minim validasi emosional, yang berpotensi menghambat proses aktualisasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana pengalaman luka hati terhadap orang tua memengaruhi konsep diri dan perjalanan aktualisasi diri individu Generasi Z, serta mengidentifikasi kondisi lingkungan keluarga yang mendukung pemulihan psikologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka teori humanistik Carl Rogers. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipatif dan wawancara daring terhadap lima partisipan Generasi Z yang mengungkapkan pengalaman luka emosional terhadap orang tua melalui media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka batin berdampak signifikan terhadap pembentukan self-concept, menciptakan inkongruensi diri, dan menghambat aktualisasi diri. Namun demikian, dukungan keluarga yang ditandai oleh empati, komunikasi terbuka, dan unconditional positive regard berperan penting dalam proses penyembuhan dan pertumbuhan psikologis Generasi Z. Kata kunci: Generasi Z; luka hati; aktualisasi diri; hubungan orang tua-anak; kesehatan mental.
Copyrights © 2026