ABSTRACT Deliberative competence is an essential outcome of history education because it equips students to construct reasoned arguments, engage in constructive dialogue, and make decisions through collective consideration. Nevertheless, history instruction remains largely teacher-centered, limiting opportunities for students to debate, exchange perspectives, and develop shared decision-making skills, particularly in learning about the Supersemar event. This study examines the effectiveness of the parliamentary simulation method in strengthening students' deliberative competence at SMKS Sejahtera Surabaya. A quantitative approach was employed using a quasi-experimental design with a nonequivalent control group. The participants comprised 52 students selected through purposive sampling, including 26 students in the experimental class and 26 in the control class. Data were collected through tests, questionnaires, observations, and documentation, and subsequently analyzed using normality and homogeneity tests, an Independent Samples t-test, and Cohen's d effect size analysis. The findings revealed a highly significant difference between the two groups, with a significance value of 0.000 (p < 0.05). Moreover, the intervention demonstrated a large effect size, indicated by a Cohen's d value of 1.7. These results suggest that the parliamentary simulation method effectively enhances students' ability to analyze historical issues, formulate rational arguments, and reach collective decisions, making it a promising instructional strategy for promoting active participation and strengthening democratic competencies in history learning. ABSTRAK Pembelajaran sejarah tidak hanya ditujukan untuk memperluas pemahaman terhadap peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk membangun kemampuan berdialog, menyusun argumentasi yang berlandaskan alasan, dan menghasilkan keputusan melalui proses musyawarah. Kondisi tersebut belum sepenuhnya terwujud karena proses pembelajaran masih cenderung berorientasi pada penyampaian materi oleh guru, sehingga interaksi deliberatif peserta didik, terutama pada pembahasan materi Supersemar, belum berkembang secara optimal. Penelitian ini mengkaji efektivitas penerapan metode simulasi parlemen dalam memperkuat kemampuan deliberatif peserta didik di SMKS Sejahtera Surabaya. Kajian dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui rancangan quasi-experimental dengan desain nonequivalent control group. Sebanyak 52 peserta didik dipilih melalui purposive sampling dan dibagi ke dalam kelas eksperimen (26 peserta didik) serta kelas kontrol (26 peserta didik). Pengumpulan data memanfaatkan tes, angket, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis dilakukan melalui uji normalitas, homogenitas, Independent Samples t-test, dan perhitungan effect size Cohen's d. Analisis menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antara kedua kelompok dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Besarnya pengaruh perlakuan juga tergolong tinggi, ditunjukkan oleh nilai Cohen's d sebesar 1,7. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa simulasi parlemen mampu memperkuat kemampuan peserta didik dalam menganalisis persoalan, menyampaikan argumentasi secara rasional, serta merumuskan keputusan bersama, sehingga layak dipertimbangkan sebagai strategi pembelajaran sejarah yang mendukung partisipasi aktif dan pengembangan kompetensi demokratis.
Copyrights © 2026