Kualitas kepribadian konselor merupakan prediktor esensial keberhasilan layanan konseling, namun kesenjangan antara kondisi ideal dan realitas praktik masih signifikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakter ideal konselor menurut Carl Rogers dan relevansinya dengan praktik bimbingan dan konseling di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis tematik terhadap 19 artikel primer—mencakup meta-analisis dan studi empiris periode 2018–2025—dari basis data akademik nasional dan internasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa empati, kongruensi, dan penerimaan positif tanpa syarat memiliki landasan empiris kuat dengan korelasi moderat hingga kuat terhadap outcome terapi. Implementasinya di Indonesia menghadapi tantangan struktural (working alliance layanan daring 79,58% vs. 96,8% tatap muka), kultural (orientasi kolektivistik vs. asumsi individualistik Rogers), dan teknologis. Secara konseptual, karakter Rogers tetap relevan dengan orientasi humanistik Indonesia. Diperlukan adaptasi budaya, penguatan refleksi diri konselor, dan pelatihan terstruktur berbasis Deliberate Practice dalam kurikulum pendidikan konselor.
Copyrights © 2026