Intoleransi laktosa merupakan gangguan pencernaan yang disebabkan oleh rendahnya aktivitas enzim laktase sehingga laktosa tidak dapat dicerna secara optimal dan menimbulkan berbagai gejala gastrointestinal. Tempe sebagai pangan fermentasi tradisional Indonesia berpotensi menjadi alternatif pangan fungsional bagi penderita intoleransi laktosa karena bebas laktosa serta mengandung komponen yang dapat mendukung kesehatan saluran cerna. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi tempe sebagai sumber prebiotik dalam meningkatkan Bakteri Asam Laktat (BAL) dan mendukung kesehatan pencernaan pada individu dengan intoleransi laktosa. Metode yang digunakan adalah narrative literature review melalui penelusuran artikel pada Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, MDPI, dan ResearchGate periode 2015-2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa tempe mengandung berbagai genus BAL, seperti Lactobacillus, Enterococcus, Micrococcus, dan Weissella yang berpotensi sebagai kandidat probiotik. Selain itu, komponen hasil fermentasi tempe berpotensi mendukung pertumbuhan mikroorganisme menguntungkan, memodulasi mikrobiota usus, dan berkontribusi terhadap pembentukan short-chain fatty acids (SCFA) yang berperan dalam menjaga kesehatan saluran cerna. Meskipun demikian, bukti klinis mengenai pengaruh konsumsi tempe terhadap gejala intoleransi laktosa masih terbatas. Tempe berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional berbasis prebiotik dan probiotik untuk mendukung kesehatan pencernaan penderita intoleransi laktosa.
Copyrights © 2026