Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana remaja mengonstruksi identitas digital melalui pola komunikasi unik di platform Litmatch. Menggunakan metode etnografi komunikasi digital, riset ini menganalisis penggunaan diksi gaul dan unsur nonverbal sebagai instrumen performativitas diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diksi slang berfungsi sebagai kode solidaritas kelompok, sementara elemen nonverbal (avatar dan fitur suara) menjadi kompensasi atas hilangnya isyarat fisik. Integrasi kedua unsur ini membentuk identitas hibrida yang cair namun terstandardisasi dalam budaya subkultur daring. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis pada evolusi interaksi termediasi komputer di era pascapandemi.
Copyrights © 2026