Pendahuluan: prevalensi pernikahan dini di Indonesia memperlihatkan adanya tren penurunan tetapi tetap berada pada angka yang memerlukan perhatian serius dimana proporsi perempuan usia 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun masih mencapai 6,92 %. Tujuan: untuk mengeksplorasi peran petugas kesehatan dalam mengidentifikasi faktor penyebab pernikahan dini yang memengaruhi upaya pencegahan pernikahan dini. Metode: Desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri dari tiga kepala puskesmas, tiga bidan koordinator, dan satu pejabat BKKBN Kota Medan (n=7). Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan triangulasi sumber Hasil: Ditemukan enam tema: (1) penyebab pernikahan dini, (2) program edukasi, (3) peran orang tua, (4) kolaborasi lintas sektor, (5) pencegahan dini, dan (6) evaluasi program. Akar masalah utama adalah kurangnya model edukasi terintegrasi yang menyasar orang tua remaja 19 tahun. Hambatan meliputi identifikasi yang belum sistematis, kebijakan yang tidak spesifik, keterbatasan sumber daya, kolaborasi yang lemah, dan evaluasi program yang minim. Kesimpulan: Penelitian ini menjelaskan bahwa pentingnya penguatan program berbasis keluarga sebagai strategi utama dalam pencegahan pernikahan dini dan kerja sama lintas sektor yang lebih strategis.
Copyrights © 2026