Intensitas budidaya jagung yang tinggi di Desa Muncanglarang, yang masih bertumpu pada tenaga manusia dan alat sederhana, mendorong berkembangnya leksikon khusus untuk menamai setiap proses, alat, bagian tanaman, hingga hasil panen. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk satuan lingual serta makna leksikal dan kontekstual leksikon budidaya jagung di Desa Muncanglarang, Kabupaten Tegal. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semantik leksikal. melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya 36 leksikon yang didominasi bentuk kata seperti bedhog, panja, boros, dan brondholan, serta satu bentuk frasa, yaitu rambut teles. Secara morfologis ditemukan bentuk monomorfemis dan polimorfemis. Secara semantik, leksikon tersebut membentuk medan makna yang runtut mulai dari pratanam hingga pascapanen serta memuat klasifikasi mutu seperti bees dan super yang berkaitan dengan kualitas dan nilai ekonomi. Keutuhan sistem ini menunjukkan bahwa praktik manual dan kolektif turut menjaga keberlangsungan kosakata lokal.
Copyrights © 2026