A. ABSTRAK: Tradisi perkawinan semanda merupakan salah satu bentuk praktik adat yang mencerminkan kekhasan sistem kekerabatan masyarakat Lampung, khususnya yang berkembang di wilayah Sukadana, Lampung Timur. Tradisi ini bercorak matrilokal, ditandai dengan menetapnya pihak laki-laki di lingkungan keluarga perempuan setelah pernikahan. Pola tersebut sejak lama berfungsi untuk menjaga kesinambungan garis keturunan, mempertahankan struktur kepemilikan keluarga, serta memperkuat relasi kekerabatan. Dalam konteks budaya Lampung, semanda tidak hanya dipahami sebagai mekanisme sosial semata, tetapi juga mengandung dimensi simbolik yang merepresentasikan relasi kekuasaan, pembagian peran gender, serta penghormatan terhadap kedudukan perempuan dalam sistem adat Pepadun. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri latar historis tradisi semanda, menguraikan tahapan-tahapan pelaksanaannya, mengkaji makna simbolik yang menyertainya, serta menganalisis berbagai perubahan yang terjadi sebagai dampak dari modernisasi dan dinamika sosial kontemporer. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan etnografis yang meliputi observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan para pelaku dan tokoh adat, penelitian ini berupaya memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai posisi semanda dalam tatanan budaya masyarakat Lampung. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi semanda tidak sekadar merupakan bentuk perkawinan adat, melainkan juga menjadi representasi nilai-nilai keharmonisan, tanggung jawab antarkeluarga, serta kesinambungan identitas budaya. Namun demikian, keberlangsungan tradisi ini saat ini menghadapi berbagai tantangan. Proses modernisasi, urbanisasi, serta perubahan orientasi generasi muda yang cenderung mengarah pada kemandirian dan pola hidup individualistik telah menyebabkan terjadinya penyempitan ruang praktik sekaligus pergeseran makna semanda. Dalam perspektif kajian budaya dan sastra, kondisi tersebut memperlihatkan adanya proses negosiasi identitas yang terus berlangsung dalam masyarakat adat Lampung. Kata kunci: semanda, perkawinan adat, budaya Lampung, tradisi matrilokal, Sukadana
Copyrights © 2026