Pengelolaan sampah di TPA Cipeucang, Tangerang Selatan, berkembang dari persoalan teknis lingkungan menjadi krisis tata kelola kota sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026, ditandai penutupan sementara, gugatan warga, dan intervensi pemerintah pusat. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana Kompas.com sebagai media nasional dan TangselXpress.com sebagai media lokal membingkai krisis TPA Cipeucang sebagai isu tata kelola kota selama Desember 2025–Januari 2026. Menggunakan pendekatan kualitatif berparadigma konstruktivisme, penelitian ini menerapkan model framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki melalui empat struktur, yaitu sintaksis, skrip, tematik, dan retoris, terhadap 20 berita, masing-masing 10 dari setiap media. Hasil menunjukkan Kompas.com konsisten menempatkan warga terdampak sebagai aktor utama, menonjolkan dampak sosial-lingkungan, dan berperan sebagai kontrol sosial yang mempertanyakan akuntabilitas pemerintah. TangselXpress.com sebaliknya menempatkan pejabat pemerintah sebagai aktor utama, menonjolkan capaian kebijakan, dan berfungsi sebagai penyalur informasi kebijakan. Perbedaan ini menunjukkan krisis TPA Cipeucang dikonstruksi berbeda sesuai posisi institusional masing-masing media terhadap otoritas lokal.
Copyrights © 2026