Women's leadership in the church continues to generate varied responses, from acceptance to rejection. The GMIM Eben Haezer and Sion Koha congregations serve as the research context to understand the dynamics of women's involvement as leaders in a church that is theologically open to gender equality. This study analyses the factors shaping women's leadership in GMIM Koha and constructs its ecclesiological implications. A phenomenological method was applied through in-depth interviews with four female leaders from both congregations. The research reveals four key findings: first, GMIM doctrine explicitly accommodates women's leadership without gender distinction; second, the egalitarian Minahasa culture functions as social-theological capital supporting women's leadership; third, feminist theology and gender studies serve as a critical framework for some female leaders; and fourth, women's competencies in leadership roles contribute meaningfully to ministry effectiveness. These findings imply the need for a participatory ecclesiology that positions women as equal partners in the church's mission, grounded in a comprehensive and just understanding of imago Dei. Abstrak Kepemimpinan perempuan dalam gereja masih memunculkan beragam respons, baik yang menerima maupun yang menolak. Jemaat GMIM Eben Haezer dan Sion Koha menjadi konteks penelitian untuk memahami dinamika keterlibatan perempuan sebagai pemimpin dalam gereja yang secara teologis terbuka terhadap kesetaraan gender. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang membentuk kepemimpinan perempuan di GMIM Koha serta merumuskan implikasi eklesiologisnya. Metode fenomenologi diterapkan melalui wawancara mendalam dengan empat pemimpin perempuan dari kedua jemaat tersebut. Hasil penelitian mengungkapkan empat temuan utama: pertama, doktrin GMIM secara eksplisit mengakomodasi kepemimpinan perempuan tanpa pembedaan gender; kedua, budaya Minahasa yang egaliter berfungsi sebagai modal sosial-teologis yang mendorong kepemimpinan perempuan; ketiga, teologi feminis dan studi gender berperan sebagai kerangka kritis bagi sebagian pemimpin perempuan; dan keempat, kompetensi perempuan dalam kepemimpinan berkontribusi nyata terhadap efektivitas pelayanan. Temuan ini mengimplikasikan perlunya eklesiologi partisipatoris yang menempatkan perempuan sebagai mitra setara dalam misi gereja, berpijak pada pemahaman tentang imago Dei yang utuh dan adil.
Copyrights © 2026