Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan agama. Di satu sisi, AI memberikan kemudahan, efisiensi, dan percepatan akses informasi. Namun di sisi lain, perkembangan budaya algoritmik melahirkan problem baru berupa krisis adab, dehumanisasi pendidikan, menurunnya kualitas interaksi manusia, serta hilangnya dimensi spiritual dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena humanisme algoritmik dan krisis adab dalam perspektif pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis terhadap ayat Al-Qur’an, hadits, pemikiran ulama klasik, serta pandangan para pakar pendidikan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya AI yang tidak dikendalikan oleh nilai-nilai tauhid dan adab dapat melahirkan generasi yang cerdas secara teknologi namun miskin spiritualitas, empati, dan moralitas. Pendidikan Islam menawarkan paradigma integratif antara ilmu, adab, dan hikmah sebagai solusi dalam menghadapi era algoritmik. Konsep ta’dib yang dikembangkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas menjadi fondasi penting dalam membangun pendidikan yang memanusiakan manusia di tengah dominasi mesin dan algoritma.
Copyrights © 2026