Kemajemukan aliran teologi (firqah) yang mewarnai sejarah pemikiran Islam pada dasarnya bersumber dari dua faktor yang saling berkelindan, yaitu perbedaan cara membaca teks keagamaan dan gejolak politik yang mengiringi masa sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) tampil di tengah kemajemukan itu dengan klaim sebagai representasi jalan tengah, atau yang lazim disebut wasathiyah, dalam merumuskan akidah. Tulisan ini disusun untuk mengurai secara komparatif kedudukan wasathiyah Aswaja tersebut dengan menghadapkannya pada empat kutub pemikiran teologis yang masing-masing menampilkan kecenderungan ekstrem pada dimensinya sendiri, yakni Syi'ah, Khawarij, Mu'tazilah, dan Wahhabiyah. Kajian ini ditempuh melalui metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), dengan analisis isi yang bersifat komparatif atas kitab-kitab kalam klasik sebagai sumber primer serta literatur akademik mutakhir sebagai penunjang. Temuan kajian memperlihatkan bahwa wasathiyah Aswaja tidak berhenti sebagai klaim normatif belaka, melainkan tampil sebagai posisi relasional yang terbangun dari lima titik perbandingan, yaitu hubungan akal dengan wahyu, status pelaku dosa besar, konsep kepemimpinan, sumber otoritas akidah, dan cara memandang perbedaan. Pada kelima titik tersebut, Aswaja secara konsisten berdiri di titik keseimbangan, di antara rasionalisme berlebih Mu'tazilah, kecenderungan literal-eksklusif Khawarij dan Wahhabiyah, serta corak partikularisme sektarian pada Syi'ah. Simpulan ini menegaskan bahwa moderasi teologis yang melekat pada Aswaja memiliki fondasi epistemologis yang argumentatif, sekaligus relevan dijadikan kerangka literasi keagamaan guna meredam kecenderungan ekstrem dan memperkuat moderasi beragama di Indonesia.
Copyrights © 2026