Geliat wirausaha di kawasan kepulauan Indonesia Timur menyimpan dinamika tersendiri yang kerap luput dari perhatian riset akademik. Kajian ini hadir untuk memetakan lansekap ekosistem kewirausahaan yang sesungguhnya dirasakan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Ambon, khususnya mereka yang bergerak di bidang kuliner khas dan kerajinan tangan. Dengan mengedepankan paradigma fenomenologi deskriptif, peneliti menghimpun pengalaman langsung dua belas wirausahawan lokal yang dipilih melalui penentuan sampel bertujuan (purposive). Seluruh data ditelaah menggunakan prosedur kondensi, display, dan verifikasi yang dikembangkan Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Riset ini mengungkap bahwa kehidupan berwirausaha di Kota Ambon dirajut oleh enam kondisi utama: tata kelola kebijakan, ketersediaan modal, lanskap budaya lokal, kekuatan jaringan pendukung, mutu sumber daya pelaku, serta jangkauan pasar. Di antara temuan yang paling mencolok, sistem kekerabatan pela-gandong terbukti menjelma menjadi sumber daya sosial yang menggerakkan solidaritas ekonomi antarpelaku usaha secara organik. Sebaliknya, fragmentasi geografis antarpulau dan sempitnya koridor pembiayaan formal membentuk dinding penghalang yang cukup nyata bagi pertumbuhan usaha. Bertolak dari temuan tersebut, kajian ini menyuarakan pentingnya kebijakan pengembangan UMKM yang berakar pada kearifan lokal sebagai alternatif strategi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan untuk kawasan Indonesia Timur.
Copyrights © 2026