Penelitian ini bertujuan untuk mengupas Tari Sodoran dalam konteks desakralisasi sebagai salah satu bentuk transformasi budaya di masyarakat adat Tengger, Probolinggo, Jawa Timur. Tari Sodoran merupakan bagian integral dari ritual Yadnya Karo, yang berfungsi sebagai media komunikasi simbolik antara manusia, leluhur, dan kekuatan spiritual. Namun, seiring dengan perkembangan modernisasi, ritual ini mengalami perubahan makna dan fungsi yang ditandai dengan pergeseran konteks pertunjukan ke ranah publik dan pariwisata. Fenomena tersebut memperlihatkan terjadinya desakralisasi, yaitu pergeseran dari nilai-nilai sakral menuju profanisasi dan komodifikasi budaya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan perspektif antropologi simbolik untuk menyingkap hubungan antara bentuk, fungsi, dan makna tari dalam konteks budaya masyarakat Tengger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Sodoran tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan estetis, tetapi juga sebagai representasi kosmologi sangkan paraning dumadi yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Tengger tentang harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Proses desakralisasi terjadi melalui tiga bentuk utama: perubahan konteks performatif, pergeseran makna simbolik, dan munculnya interpretasi baru terhadap fungsi tari dalam ranah sosial modern. Meskipun demikian, masyarakat Tengger tetap mempertahankan esensi sakral Tari Sodoran melalui mekanisme seleksi adat, pelestarian simbol-simbol utama, dan upaya reinterpretasi nilai-nilai spiritual agar tetap relevan dengan zaman.Kata Kunci: Tari Sodoran, desakralisasi, Yadnya Karo, masyarakat Tengger
Copyrights © 2026