Pergeseran paradigma museum menuntut transformasi fasilitas pasif menjadi destinasi edutourism interaktif yang berpusat pada pengunjung. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi integrasi desain edukasi dan pengalaman wisata on-site di Museum Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Meskipun penting, evaluasi empiris yang mengintegrasikan desain fisik dan pengalaman belajar pengunjung pada konteks museum daerah berbasis potensi lokal masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif-induktif yang mengombinasikan analisis elemen fisik, dimensi pengalaman wisatawan, serta disintesis melalui The Contextual Model of Learning, dengan data yang diperoleh dari tiga orang informan serta observasi lapangan yang dilaksanakan pada bulan November Tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan tiga kondisi evaluatif utama yaitu: (1) Capaian Optimal pada edukasi luar ruang dan pameran makro karena pelibatan sensorik-motorik; (2) Adaptif Terbatas pada klaster mikro dan etnografi yang menyiasati keterbatasan fisik melalui pemanduan peer-to-peer (human-mediated affordance); serta (3) Celah Fungsional akibat partisipasi media sosial yang sebatas Active Co-Promoter dan alur sirkulasi yang terputus di titik akhir tanpa fasilitas pemulihan fisiologis. Transformasi Museum Daerah NTT memerlukan penyediaan Permanent Hands-On Corner di Zona Etnografi, elevasi peran wisatawan menjadi Digital Co-Curator, serta redesain akhir rute melalui Museum Café-Hub guna memperpanjang dwelling time. Penelitian ini berkontribusi menyediakan kerangka evaluasi holistik berbasis Contextual Model of Learning dalam mengoptimalkan pengalaman edutourism di Museum Daerah Nusa Tenggara Timur.
Copyrights © 2026