Penelitian ini berangkat dari masalah mendasar dalam pendidikan karakter anak usia dasar di era digital, di mana pendekatan konvensional yang indoktrinatif dan fokus pada aspek prosedural ibadah (seperti pendidikan sholat) terbukti tidak efektif dalam mencapai internalisasi nilai. Kesenjangan antara potensi sholat sebagai medium pembentuk karakter (akhlak al-karimah) dan metode pengajarannya yang mekanistik menjadi fokus permasalahan. Tujuan utama penelitian adalah untuk menganalisis efektivitas integrasi metode storytelling dalam pendidikan sholat sebagai strategi inovatif untuk menumbuhkan karakter positif anak, yang sekaligus menjawab kesenjangan antara teori dan praktik pedagogis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui desain development research dan action research, penelitian melibatkan anak usia dasar, guru, dan orang tua. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan catatan reflektif dalam beberapa siklus pembelajaran. Temuan utama mengonfirmasi bahwa storytelling secara signifikan meningkatkan keterlibatan emosional (durasi perhatian meningkat dari 5–7 menit menjadi 15–20 menit) dan pemahaman nilai, dengan 85% anak mampu mengidentifikasi nilai sholat melalui emosi tokoh cerita. Proses internalisasi nilai terbukti dari perubahan perilaku nyata, seperti penurunan signifikan keterlambatan sholat berjamaah (dari 8 menjadi 3 anak per sesi) dan peningkatan kekhusyukan. Sinergi guru dan orang tua sebagai storyteller menjadi faktor kunci keberhasilan. Studi ini memberikan kontribusi ganda: secara teoretis, dengan memperkaya metodologi pendidikan Islam melalui integrasi psikologi perkembangan, pedagogi naratif, dan nilai-nilai keislaman; secara praktis, dengan menghasilkan model pembelajaran aplikatif yang menggeser orientasi dari pengajaran ritual ke penumbuhan karakter bermakna, serta menawarkan solusi konkret bagi tantangan pendidikan karakter kontemporer
Copyrights © 2026