Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

From Theology to Social Action: How Islamic Community Organization Conceptualize Islamic Philanthropy Ahmad Rezy Meidina; Syaibani Ihza Ibrahim; Imam Sibawaih; Yudhi Hadiamsyah
Saqifah: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Vol 10, No 2 (2025): SAQIFAH: JURNAL HUKUM EKONOMI SYARIAH
Publisher : Saqifah: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/sqf.v10i2.915

Abstract

This article examines the concept of Islamic philanthropy from the perspective of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, based on the shift in the meaning of philanthropy compared to the classical understanding. Experts emphasize that philanthropy is a fundamental element in Islamic teachings, as seen in its various forms such as zakat one of the five pillars of Islam as well as infaq, sadaqah, and waqf. Therefore, philanthropy has a strategic position in the lives of Muslims. Although the meaning of philanthropy in the context of modern society has changed, the substance of philanthropy as an act of giving and spreading benefits remains unchanged. Islam plays a central role in building civilization, both through the spread of religion, the dissemination of knowledge, and the development of educational and social welfare institutions. Mosques as centers of da'wah (proselytizing) are one tangible manifestation of philanthropy, as exemplified by the Prophet Muhammad who established mosques as a means of spreading Islam. Similarly, educational institutions that function as centers for the transmission of knowledge also grew out of the practice of philanthropy, and it was through these institutions that the intellectual development of Islam took place. This article aims to provide the public with an understanding of the changing meaning of Islamic philanthropy by examining the views of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah as primary data. The analysis was conducted using the theory of Islamic legal change and a normative approach, with the aim of revealing the values of truth in the practice of Islamic philanthropy in society so that they can continue to be actualized in the future. 
Parental Responsibility in Elementary School Children's Education: Integration of the Tarbiyatul Aulad Concept and Islamic Family Law Yudhi Hadiamsyah; Atiek Nazli Rahmatika
Khuluqiyya: Jurnal Kajian Hukum dan Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah 2

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56593/khuluqiyya.v8i1.206

Abstract

This study examines the gap between the normative demands of parental responsibility in children's education according to the concepts of Tarbiyatul Aulad and Islamic Family Law and the reality of its implementation in Islamic elementary schools (SD/MI), as well as exploring responses to the GEMAR program. The novelty of this research lies in three aspects: (1) the integration of Abdullah Nashih Ulwan's seven educational dimensions with Article 80 of the Compilation of Islamic Law (KHI), which has previously been interpreted only in economic terms; (2) the first evaluation of the GEMAR program in Islamic elementary schools (madrasah ibtidaiyah); (3) the development of a normative-empirical integration model that has not existed in previous studies. This research employed a qualitative approach with a single case study design. Data were collected through in-depth interviews (18 parents, 6 teachers, 1 principal, 8 students), participatory observation, and documentation. The findings indicate: (1) the ideal concept encompasses seven aspects and five educational methods, as well as the mandate of Article 80 KHI; (2) implementation remains partial, with psychological and sexual education being neglected and minimal paternal involvement (the fatherless phenomenon at only 26.7%); (3) the GEMAR program shows positive contributions but still faces challenges in the form of symbolic participation. The contributions of this research include expanding the interpretation of Article 80 KHI, critiquing gender constructs in Islamic family law, and providing evidence-based policy recommendations for the GEMAR program. In conclusion, synergy among family, school, and government is essential, emphasizing the revitalization of the father's role and the dissemination of Ulwan's seven aspects. Policy implications are context-specific and require further multi-site testing.
Literasi Peserta Didik: Strategi Efektif Mendorong Minat Membaca Bagi Peserta Didik MI/SD Raufi Yani Nur; Yudhi Hadiamsyah; Moch. Farich Alfani
Mentari : Journal of Islamic Primary School Vol. 3 No. 4 (2025): December 2025
Publisher : PGMI, STAI Miftahul Ula Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59689/ment.v3i4.1837

Abstract

Literasi merupakan pondasi penting dalam pembentukan peradaban manusia dan telah mendapat perhatian khusus sejak awal Islam melalui wahyu pertama yang menekankan pentingnya membaca. Anak usia dini berada pada fase emas perkembangan, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan membaca. Namun, rendahnya minat baca pada anak-anak di Indonesia menunjukkan perlunya strategi khusus yang menyenangkan dan sesuai dengan tahapan perkembangan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas berbagai strategi membaca yang efektif untuk anak usia dini melalui kajian Pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode yang menyenangkan dan sesuai dengan cara belajar anak, seperti bermain sambil membaca, membacakan cerita dengan suara keras, menggunakan kartu kata bergambar, dan bermain peran, dapat membantu meningkatkan minat dan kemampuan membaca anak. Selain itu, keterlibatan guru dan orang tua sangat berpengaruh dalam menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk belajar membaca, baik dirumah maupun disekolah. Diharapkan, Artikel ini memberikan panduan praktis dan teoritis bagi para pendidik dan orang tua dalam membentuk generasi pembaca sejak usia dini.
Penumbuhan Pendidikan Karakter Anak Usia Dasar Melalui Pendidikan Sholat Dengan Gaya Storytelling  Yudhi Hadiamsyah; Ahmad Rezy Meidina
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp169-171

Abstract

Penelitian ini berangkat dari masalah mendasar dalam pendidikan karakter anak usia dasar di era digital, di mana pendekatan konvensional yang indoktrinatif dan fokus pada aspek prosedural ibadah (seperti pendidikan sholat) terbukti tidak efektif dalam mencapai internalisasi nilai. Kesenjangan antara potensi sholat sebagai medium pembentuk karakter (akhlak al-karimah) dan metode pengajarannya yang mekanistik menjadi fokus permasalahan. Tujuan utama penelitian adalah untuk menganalisis efektivitas integrasi metode storytelling dalam pendidikan sholat sebagai strategi inovatif untuk menumbuhkan karakter positif anak, yang sekaligus menjawab kesenjangan antara teori dan praktik pedagogis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui desain development research dan action research, penelitian melibatkan anak usia dasar, guru, dan orang tua. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan catatan reflektif dalam beberapa siklus pembelajaran. Temuan utama mengonfirmasi bahwa storytelling secara signifikan meningkatkan keterlibatan emosional (durasi perhatian meningkat dari 5–7 menit menjadi 15–20 menit) dan pemahaman nilai, dengan 85% anak mampu mengidentifikasi nilai sholat melalui emosi tokoh cerita. Proses internalisasi nilai terbukti dari perubahan perilaku nyata, seperti penurunan signifikan keterlambatan sholat berjamaah (dari 8 menjadi 3 anak per sesi) dan peningkatan kekhusyukan. Sinergi guru dan orang tua sebagai storyteller menjadi faktor kunci keberhasilan. Studi ini memberikan kontribusi ganda: secara teoretis, dengan memperkaya metodologi pendidikan Islam melalui integrasi psikologi perkembangan, pedagogi naratif, dan nilai-nilai keislaman; secara praktis, dengan menghasilkan model pembelajaran aplikatif yang menggeser orientasi dari pengajaran ritual ke penumbuhan karakter bermakna, serta menawarkan solusi konkret bagi tantangan pendidikan karakter kontemporer