Perkembangan masyarakat modern yang ditandai oleh percepatan teknologi informasi dan perubahan pola komunikasi menghadirkan tantangan baru bagi praktik dakwah Islam. Dalam konteks ini, Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai sumber ajaran normatif, tetapi juga sebagai pedoman komunikasi yang mengandung prinsip-prinsip dakwah yang adaptif dan kontekstual. Kajian ini mengulas relevansi metode dakwah Al-Qur’an melalui analisis tematik terhadap konsep al-bayān (kemampuan komunikasi), wasilah (sarana dakwah), dan uslūb (metode dakwah) yang termuat dalam QS. An-Nahl ayat 125, QS. Al-Mā’idah ayat 35, dan QS. Ar-Rahman ayat 4. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan digunakan untuk menganalisis Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Fī Ẓilāl al-Qur’ān karya Sayyid Qutb, serta literatur ilmiah relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa dakwah Al-Qur’an merupakan proses komunikasi persuasif yang menekankan hikmah, kelembutan, dan dialog etis. Konsep al-bayān menjadi fondasi utama komunikasi dakwah, sementara wasilah dan uslūb menuntut pemanfaatan media dan metode yang adaptif tanpa mengabaikan nilai-nilai Qur’ani. Temuan ini menegaskan bahwa prinsip komunikasi dakwah Al-Qur’an tetap relevan dalam menjawab tantangan dakwah di era digital dan masyarakat modern yang plural
Copyrights © 2026