This study aims to reveal the symbolic significance of animals in the Hari Candana palm-leaf manuscript (lontar), focusing on their role as motifs of fear in oath-taking texts. The manuscript comprises predominantly Old Javanese and Balinese sapatha, or curses, directed at oath-breakers. Using semiotic theory and cultural linguistics, the analysis uncovers cultural perspectives toward these animals. The findings show that animals are used to instilling fear in those who violate their oaths. Denotatively, their presence signifies the physical dangers they pose, such as venom and attacks. Connotatively, these threats symbolize corruption, destruction, and moral degradation. Together, these elements sustain the myth that oath-breakers will inevitably encounter peril across various living spaces, mediated by the presence of animals. The ultimate consequence is rebirth as loathsome creatures. These interpretations are profoundly influenced by the Balinese people's collective understanding of animals, shaped by their specific cultural lens. === Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolis hewan yang terdapat dalam teks lontar Hari Candana. Lontar ini memuat teks persumpahan yang dominan disajikan dalam bahasa Jawa Kuno dan Bali. Di dalamnya berisi pula sapatha atau kutukan bagi pelanggar sumpah. Kajian terhadap hewan dalam teks ini menggunakan teori semiotik dan linguistik kebudayaan, guna mengungkap pandangan kebudayaan terhadap hewan-hewan ini. Ditemukan jika hewan di dalam teks ini dijadikan motif untuk memberikan rasa takut kepada seorang yang melanggar sumpahnya. Kehadiran hewan dimaknai secara denotasi berupa bahaya yang dapat ditimbulkan olehnya, berupa bisa dan serangan. Secara konotasi, bisa dan serangan itu dapat dimaknai sebagai simbol kerusakan, kehancuran dan kemerosotan. Semua ini dibangun untuk mengajegkan mitos bahwa orang-orang yang melanggar sumpah itu akan selalu menerima bahaya di berbagai ruang hidup, bahkan oleh kehadiran hewan-hewan. Titik paling buruk berupa kelahiran kembali menjadi hewan-hewan menjijikkan. Hal-hal ini dipengaruhi pula oleh pemahaman kolektif masyarakat Bali dalam melihat hewan dari perspektif kebudayaannya.
Copyrights © 2026