The Special Region of Yogyakarta is a province granted special authority by the Government of the Republic of Indonesia. This status is supported by the Special Fund (Danais), which has been allocated to the region since 2013. The DIY Cultural Office, a local government agency, is responsible for distributing Danais within the cultural sector, including literature. This study addresses two research questions about the relationship between Danais and literature in the literary competitions organized by the DIY Cultural Office and how the discourse of glorifying special status is constructed in the literary works resulting from these competitions. The research employs a qualitative descriptive method, analyzing laws, regulations, winning literary works, and posts related to literary competitions on websites and social media. Data were collected through observation, focusing on linguistic units related to Danais, literary competitions, and narratives glorifying Yogyakarta's special status. The findings demonstrate that the use of Danais in the cultural sector is consistent with the provisions of the Law and Regional Regulations. However, the accountability mechanisms lack transparency, raising concerns about budget efficiency. Additionally, the annual decrease in prize amounts for literary competitions suggests insufficient recognition of winners or writers. As a result, the themes and literary works produced by the winners do not correspond with efforts to enhance the welfare of the people of Yogyakarta. === Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang memiliki kewenangan istimewa di bawah Pemerintah Republik Indonesia. Keistimewaannya tersebut didukung dengan adanya Dana Keistimewaan (Danais) yang diterima sejak 2013. Dinas Kebudayaan DIY merupakan salah satu perangkat pemerintahan daerah yang bertugas menyalurkan Danais dalam bidang kebudayaan termasuk kesusastraan. Hal tersebut memunculkan dua pertanyaan penelitian, yaitu tentang bagaimana korelasi antara Danais dengan kesusastraan pada kegiatan perlombaan sastra Dinas Kebudayaan DIY dan bagaimana wacana glorifikasi terhadap keistimewaan diproduksi dalam karya sastra hasil perlombaan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan objek material berupa Undang-Undang, peraturan, karya sastra pemenang, dan unggahan terkait perlombaan sastra di website maupun media sosial. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode simak dengan data berupa satuan-satuan bahasa mengenai Danais, perlombaan sastra, serta narasi glorifikasi terhadap keistimewaan Yogyakarta. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan Danais di bidang kebudayaan telah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang dan Perdais. Akan tetapi, transparansi dalam pertanggungjawabannya cenderung masih menjadi kekurangan sehingga menimbulkan kecurigaan dalam realisasi anggaran. Selain itu, semakin berkurangnya nominal hadiah perlombaan cipta sastra dari tahun ke tahun merefleksikan kurangnya apresiasi terhadap para sastrawan dan penulis. Pada akhirnya, wacana yang terdapat dalam tema dan karya sastra pemenang tidak diikuti dengan upaya perbaikan kehidupan masyarakat Yogyakarta secara nyata.
Copyrights © 2026