Media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi mengenai kesehatan termasuk gangguan menstruasi. Paparan media sosial yang massif sehari hari mendorong remaja mencari informasi mengenai gangguan menstruasi yang dialaminya. Kemudahan mengakses informasi mendorong remaja untuk melakukan self-diagnosis secara mandiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan media sosial terhadap fenomena self-diagnosis gangguan menstruasi dengan studi akurasi pada remaja putri di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 10 Muaro Jambi. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi yaitu seluruh siswi di SMAN 10 Muaro Jambi yang memenuhi kriteria sebanyak 105 orang, dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dengan total 16 pertanyaan mengenai paparan media sosial, perilaku self-diagnosis, karakteristik gangguan menstruasi, dan pemahaman gangguan menstruasi yang dialami, kuesioner diadaptasi dari peneliti sebelumnya menggunakan skala pengukuran ordinal. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Sebagian besar responden aktif menggunakan media sosial sebagai sumber informasi gangguan menstruasi. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paparan media sosial dengan akurasi self-diagnosis gangguan menstruasi (p=0,946). Durasi penggunaan media sosial juga tidak berhubungan signifikan dengan akurasi self-diagnosis (p=0,213). Akan tetapi media sosial memiliki keterkaitan dalam mempengaruhi remaja memahami dan menganalisis informasi tentang gangguan menstruasi, sehingga perlu dilakukan peningkatan literasi kesehatan digital agar para remaja mampu menyaring dan mengevaluasi informasi yang didapat dari media sosial secara kritis.
Copyrights © 2026