Studi ini berusaha mengungkap dan memformulasikan bagaiamana rejuvenasi ekopuitika dan cerpen lokal yang dilakukan Sastraloka sebagai medium responsif karya sastrawan lokal (Korrie layun Rampan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus pada bagaiamana Sastraloka, sebagai sebuah program, merejuvenasi ekopuitika dan cerpen lokal. Peneliti melakukan observasi partisipatif, mewawancarai 20 informan terkait, dan mendokumentasikan proses penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sastraloka berhasil merespon mementum sastra Kaltim khususnya ekopuitika dan cerpen yang sedang bertumbuh dan merefleksikan urgensi rejuvenasi ekopuitika dan cerpen lokal tersebut dengan menggunakan pendekatan holistik (pengenalan dan pembiasaan dini, kolaborasi lintas seni, kontekstualisasi dengan isu kontemporer, digitalisasi dan aksesibilitas, serta penyediaan ruang ekspresi dan komunitas suportif). Sastraloka menggunakan empat metode rejuvenasi: 1). Respon lokalitas sebagai sumber kreasi (sastrawan lokal dan karyanya, budaya, bahasa, agama, sosial, dan lingkungan), 2). Lokakarya kepenulisan (eksplorasi fenomena sekitar dan eksplorasi teknis kepenulisan ekopuitika dan cerpen),3). Stimulus minat ekopuitika dan cerpen (dialog interaktif, pembacaan dan musikalisasi puisi, penampilan seni lokal seperti Sape, tarian, dan kelompok musik), 4). Apresiasi karya (penyediaan ruang karya, publikasi karya analekta, video dokumenter). Sastraloka juga memiliki program strategis terkait pelatihan dan jumpa virtual rutin, publikasi karya, dan ekspansi kegiatan. Temuan tersebut kemudian peneliti formulasikan menjadi sebuah model yang bernama “Model Rejuvenasi Sastraloka (MRS)”.
Copyrights © 2026