Kajian governance dalam literatur arus utama selama beberapa dekade terakhir cenderung didominasi oleh pendekatan institusional dan normatif yang menekankan desain kelembagaan, kapasitas negara, serta kinerja kebijakan publik. Pendekatan tersebut, meskipun memberikan kontribusi penting dalam pengukuran dan reformasi tata kelola, sering kali mengabaikan dimensi makna, interpretasi, dan praktik sosial aktor yang membentuk proses governance dalam konteks nyata. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi makna governance melalui pendekatan interpretatif yang dikembangkan oleh Mark Bevir. Dengan menggunakan metode kajian literatur dan analisis konseptual, artikel ini menelusuri asumsi epistemologis, ontologis, dan metodologis pendekatan interpretatif, serta mendialogkannya secara kritis dengan pendekatan governance arus utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa governance tidak dapat dipahami semata-mata sebagai seperangkat struktur formal atau mekanisme teknokratis, melainkan sebagai praktik sosial yang dibentuk oleh tradisi, keyakinan, dan proses interpretasi aktor dalam menghadapi dilema-dilema kontekstual. Pendekatan interpretatif Bevir menempatkan agensi aktor dan kontestasi makna sebagai pusat analisis, sehingga menawarkan kerangka pemahaman governance yang lebih reflektif, kontekstual, dan sensitif terhadap dinamika sosial-politik. Artikel ini berkontribusi pada pengayaan diskursus teoritik governance dengan menegaskan pentingnya memahami tata kelola sebagai proses meaning-in-action, khususnya dalam konteks masyarakat plural dan pasca-desentralisasi.
Copyrights © 2026