Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi masalah kesehatan yang sering terjadi pada balita dan berdampak tidak hanya pada kondisi fisik anak, tetapi juga pada ketahanan keluarga. Keluarga memiliki peran penting dalam pencegahan dan penanganan ISPA, sehingga kemampuan keluarga untuk beradaptasi dan bertahan menghadapi tekanan kesehatan sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dan resiliensi keluarga pada keluarga penderita ISPA. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 100 keluarga penderita ISPA di wilayah kerja Puskesmas Karya Wanita yang dipilih menggunakan rumus Slovin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Family Resilience Assessment Scale (FRAS). Hasil pengujian validitas menunjukkan bahwa nilai factor loading berada pada rentang 0,42 hingga 0,82 dan uji reabilitas 0,96 (Sixbey,2005) dan dianalisis secara univariat serta bivariat dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan dan sebagian besar orang tua memiliki tingkat pendidikan menengah. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan orang tua dan resiliensi keluarga (p= 0,019). Orang tua dengan pendidikan menengah hingga tinggi cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola tekanan kesehatan, beradaptasi terhadap kondisi sakit anak, serta mempertahankan fungsi keluarga. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan orang tua berperan penting dalam memperkuat resiliensi keluarga.
Copyrights © 2026