Masa postpartum merupakan fase transisi yang melibatkan perubahan fisik dan psikologis pada ibu. Salah satu gangguan psikologis yang sering terjadi adalah baby blues syndrome. Kualitas tidur merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi emosional ibu postpartum. Kurangnya kualitas tidur dapat meningkatkan risiko terjadinya baby blues syndrome. Mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kejadian baby blues syndrome pada ibu postpartum di RSUD Kartini Karanganyar. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 42 responden. Instrumen penelitian menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) versi Indonesia yang telah memenuhi uji validitas (PSQI: r = 0,487–0,778; EPDS: r = 0,140–0,774) dan reliabilitas (Cronbach's Alpha masing-masing sebesar 0,803 dan 0,80). Analisis data menggunakan uji Kendall's Tau. Sebanyak 34 responden (81,0%) mengalami kualitas tidur buruk dan 25 responden (59,5%) mengalami baby blues syndrome. Hasil uji Kendall's Tau menunjukkan nilai p-value sebesar 0,003 (p < 0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian baby blues syndrome pada ibu postpartum. Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian baby blues syndrome pada ibu postpartum di RSUD Kartini Karanganyar.
Copyrights © 2026