Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman pekerja Generasi Z di agensi digital marketing dalam memproduksi pesan nonverbal melalui praktik quiet quitting. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan paradigma interpretif. Tujuh informan dipilih melalui purposive sampling berdasarkan pengalaman bekerja atau pernah bekerja di agensi digital marketing serta pengalaman membatasi keterlibatan kerja. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dokumentasi pendukung, kemudian dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa quiet quitting bukan penolakan terhadap pekerjaan utama, melainkan pengaturan ulang keterlibatan kerja. Informan tetap menyelesaikan tugas pokok, tetapi membatasi pekerjaan tambahan, komunikasi di luar jam kerja, diskusi yang berpotensi menambah beban, dan tanggung jawab di luar jobdesk. Pembatasan tersebut memproduksi pesan nonverbal melalui kronemik, diam atau employee silence, pengurangan inisiatif, textual paralanguage, dan penarikan diri. Bentuk yang paling kuat adalah diam, pengurangan inisiatif, dan penarikan diri, sedangkan kronemik paling jelas tampak pada pembatasan respons di luar jam kerja. Temuan ini memperlihatkan bahwa quiet quitting dapat menjadi pesan mengenai batas waktu, batas jobdesk, ketidaknyamanan, protes halus, dan perlindungan diri dalam relasi kerja.
Copyrights © 2026