Di tengah reaksi masyarakat dan tekanan yang dialami oleh kelompok minoritas LGBTQ mengalami banyak pergolakan baik itu dari dalam diri mereka, maupun dari opresi homofobia. Stigma yang dirasakan oleh kelompok LGBTQ ini menjadi alasan banyak individu yang memilih untuk closeted atau tertutup dan bersembunyi. Oleh karena itu, individu komunitas LGBTQ takut untuk terbuka akan rahasia orientasi seksualnya kepada orang lain mengetahui bahwa tindakan mereka dianggap sebagai kesalahan fatal, dosa, dianggap seperti tindak kriminal hingga dipersekusi. Tidak mudah bagi LGBTQ untuk memilih came out akan identitasnya. LGBTQ memilih untuk terbuka secara hati-hati melalui proses self-disclosure, yakni mengungkapkan orientasi diri hanya ke orang-orang tertentu. Berdasarkan pengalaman emosional, penolakan, ancaman, stigma dan marginalisasi tersebut, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui motif yang mendorong self-disclosure dan proses yang dihasilkan oleh tindakan self-disclosure orientasi seksual pada komunitas LGBTQ. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis dengan metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori disonansi kognitif. Hasil penelitian menemukan bahwa proses self-disclosure yang dialami oleh informan LGBTQ melibatkan beberapa alasan melalui kajian fenomenologi untuk mencari tahu bagaimana motif sebab (because motive) serta motif tujuan (in-order-to motive) dalam self-disclosure orientasi seksual yang dialami individu komunitas LGBTQ.
Copyrights © 2026