Pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung merupakan tonggak awal munculnya orang kuat lokal (local strongman). Fenomena ini salah satunya terjadi di Kabupaten Demak melalui keterlibatan Noer Halim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Noer Halim dalam membajak pasangan lawan guna membangun koalisi yang dominan, sekaligus mengidentifikasi perannya di luar posisi sebagai penyandang dana utama (voter funder) salah satu calon Bupati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan di Kabupaten Demak. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Noer Halim dalam membentuk koalisi pada Pilkada Demak tahun 2020 bertumpu pada taktik "pembajakan politik" (political hijacking). Strategi ini dilakukan dengan cara menarik pasangan calon lawan untuk memperlemah kekuatan politik rival sekaligus mengamankan basis suara mayoritas. Mengingat penelitian ini terbatas pada konteks kontestasi pemilihan bupati, peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas kajian terkait peran local strongman dalam ranah dinamika politik yang lebih luas, seperti pada tingkat legislatif maupun kebijakan publik.
Copyrights © 2026