Asma merupakan penyakit pernapasan kronis yang gejalanya dapat muncul secara berulang dan berbeda pada setiap penderita, sehingga pemantauan kondisi pernapasan menjadi penting. Penelitian ini merancang sistem pemantauan dan terapi asma berbasis Internet of Things (IoT) bernama ASELEN yang terintegrasi dengan aplikasi smartphone. Sistem membaca kadar karbon dioksida (CO₂) pada ruang masker menggunakan sensor SCD40, kemudian menghitung nilai ΔCO₂ sebagai selisih antara CO₂ akhir dan CO₂ awal selama periode pengukuran. Nilai ΔCO₂ digunakan sebagai parameter utama masukan metode Fuzzy Mamdani untuk mengklasifikasikan kondisi pengguna menjadi Normal, Waspada, dan Bahaya. Data hasil pemantauan dikirim ke Firebase Realtime Database dan ditampilkan pada aplikasi smartphone, sedangkan bagian terapi menggunakan smart inhaler dengan sensor gyroscope dan buzzer sebagai indikator posisi. Hasil pengujian menunjukkan sensor SCD40 memiliki rata-rata persentase error 2,93% terhadap PPM meter, metode Fuzzy Mamdani mencapai akurasi klasifikasi 100% terhadap kategori referensi, pengiriman data ke Firebase dan aplikasi berhasil 100% dengan rata-rata delay 4953 ms, gyroscope pada smart inhaler memiliki performansi 93,33%, dan penggunaan smart inhaler memberikan rata-rata efektivitas peningkatan ΔCO₂ sebesar 13,71%. Hasil ini menunjukkan sistem ASELEN dapat bekerja sesuai rancangan sebagai sistem pemantauan dan pendukung terapi asma. Kata kunci: Asma, ΔCO₂, Fuzzy Mamdani, Internet of Things, Smart Inhaler.
Copyrights © 2026