Konflik antara korporasi tambang, aparat negara, dan masyarakat lokal di Indonesia kerap tidak terwakili dalam wacana publik arus utama, sehingga karya sastra hadir sebagai medium komunikasi alternatif yang menyuarakan realitas yang tersisih. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kekuasaan dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye sebagai praktik komunikasi sosial menggunakan integrasi Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough dan konsep hegemoni Antonio Gramsci. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis tiga dimensi Fairclough: teks (mikro), praktik diskursif (meso), dan praktik sosiokultural (makro). Data dikumpulkan melalui teknik baca-catat dan pengkodean tematik terhadap kutipan novel yang merepresentasikan praktik kekuasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan dikomunikasikan melalui strategi linguistik berlapis: diksi koersif dan eufemistik, manipulasi modalitas, transitivitas, kalimat pasif, dan nominalisasi. Pada tataran meso, teks berdialog dengan wacana konflik agraria nyata di Indonesia melalui intertekstualitas. Pada tataran makro, novel merepresentasikan sistem hegemoni Gramscian yang lengkap sebagai dua moda dominasi yang saling melengkapi: konstruksi persetujuan melalui bahasa dan koersi fisik. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi AWK Fairclough dan hegemoni Gramsci dalam perspektif komunikasi kritis untuk membongkar mekanisme linguistik kekuasaan dalam fiksi populer. Implikasinya, novel populer dapat berfungsi sebagai ruang diskursif demistifikasi wacana kekuasaan yang efektif bagi khalayak luas.
Copyrights © 2026