Praktik keagamaan komunal dalam masyarakat Muslim Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai ritual spiritual individual, tetapi juga merupakan instrumen krusial dalam pembentukan solidaritas sosial dan inklusi religiusitas. Pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi kegiatan yasinan malam Jumat rutin di Kelurahan Benteng, Kabupaten Sidenreng Rappang, dalam membangun ruang keagamaan yang inklusif serta memperkuat ukhuwah Islamiyah antarwarga. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui teknik observasi partisipatif dan wawancara mendalam, data dihimpun untuk memetakan partisipasi jamaah serta makna sosial-keagamaan yang dihasilkan dari interaksi rutin di masjid. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa yasinan malam Jumat berperan strategis sebagai "ruang ketiga" yang melampaui sekat-sekat sosial, usia, dan pendidikan, di mana pendekatan partisipatif yang diterapkan pengurus masjid mampu menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat di kalangan jamaah. Kesimpulannya, program yasinan malam Jumat efektif menjadi model pengembangan komunitas berbasis aset spiritual yang dapat meningkatkan kedisiplinan religius, dan menciptakan harmoni sosial dan inklusi religiusitas yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026