Artikel ini menganalisis strategi komunikasi negara dalam merespons kritik publik, dengan fokus pada klarifikasi oleh Teddy Indra Wijaya terhadap kritik Dino Patti Djalal mengenai anggaran kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Menggunakan model Analisis Wacana Kritis (AWK) tiga dimensi Norman Fairclough (2003, 2010), penelitian ini mengkaji bagaimana praktik wacana tersebut memanifestasikan strategi kesantunan linguistik, upaya delegitimasi kredibilitas, dan konstruksi kebenaran tunggal melalui media resmi. Pendekatan AWK Fairclough memungkinkan analisis mendalam tentang hubungan dialektis antara teks, praktik diskursif, dan praktik sosial, mengungkap pertarungan simbolik antara elite birokrasi dan kelompok teknokrat sipil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klarifikasi tersebut bergeser dari pertanggungjawaban institusional menjadi pembelaan personal, berimplikasi pada pengikisan kontrol demokratis masyarakat sipil. Dengan mengintegrasikan analisis linguistik (teks), produksi dan konsumsi wacana (praktik diskursif), serta konteks sosial-politik (praktik sosial), penelitian ini menggarisbawahi pentingnya penerapan AWK Fairclough secara komprehensif untuk mengungkap mekanisme kuasa dalam komunikasi politik kontemporer dan memberikan kontribusi pada studi tentang dinamika komunikasi negara di era digital.
Copyrights © 2026