Fenomena campur kode bahasa Inggris dalam tuturan bahasa Indonesia sering ditemukan pada interaksi guru dan siswa di SMK Negeri 8 Samarinda. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan faktor penyebab fenomena tersebut. Data dikumpulkan melalui teknik rekam dan catat, lalu dianalisis menggunakan metode padan pragmatik serta model SPEAKING Dell Hymes untuk memahami konteks peristiwa tutur secara menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bentuk campur kode dominan berupa penyisipan kata dan frasa asing, seperti next, join, stop, dan break, yang muncul dalam situasi formal maupun informal. Fenomena ini dipicu oleh faktor penutur, yakni latar belakang kebahasaan dan keinginan membangun suasana santai, serta faktor kebahasaan terkait kepraktisan istilah tertentu. Disimpulkan bahwa campur kode berfungsi sebagai strategi komunikasi untuk mempermudah penyampaian pesan dan beradaptasi dengan dinamika lingkungan pendidikan. Penggunaan unsur asing tersebut membantu menciptakan interaksi yang lebih efektif dan komunikatif dalam proses pembelajaran di sekolah.
Copyrights © 2026