Pembangunan industri ekstraktif seperti pabrik semen di kawasan pegunungan kapur (karst) sering kali memicu konflik sosial akibat kekhawatiran masyarakat terhadap degradasi lingkungan. Di wilayah Pegunungan Kendal, rencana pendirian pabrik semen menuai pro dan kontra terkait potensi dampaknya terhadap sumber daya air dan kualitas udara di desa-desa penyangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat lokal terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana pembangunan pabrik semen tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan instrumen kuesioner berskala Likert yang disebarkan kepada 100 responden di tiga desa terdampak utama, dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (78%) memiliki persepsi negatif, dengan kekhawatiran tertinggi pada aspek penurunan debit mata air dan pencemaran debu. Disimpulkan bahwa resistensi masyarakat muncul akibat kurangnya transparansi dalam penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta ketakutan akan hilangnya lahan pertanian produktif. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan kebijakan di sektor terkait. Faktor eksternal turut mempengaruhi dinamika fenomena yang diteliti
Copyrights © 2026