Wilayah lereng Gunung Merapi merupakan kawasan dengan tingkat kerentanan ganda (multi- hazard), di mana ancaman erupsi vulkanik sering kali beriringan dengan aktivitas gempa bumi vulkano-tektonik. Anak usia sekolah dasar merupakan kelompok rentan yang memiliki keterbatasan fisik dan psikologis dalam merespons situasi darurat, sehingga memerlukan intervensi kesiapsiagaan yang spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesiapsiagaan siswa sekolah dasar di kawasan rawan bencana III Merapi terhadap ancaman gempa bumi. Metode penelitian menggunakan desain survei deskriptif kuantitatif dengan sampel sebanyak 150 siswa kelas 4-6 dari lima SD inti di Kecamatan Cangkringan, yang dipilih secara acak proporsional. Instrumen pengukuran mengadaptasi kerangka kerja LIPI yang mencakup parameter pengetahuan, rencana tanggap darurat, peringatan bencana, dan mobilisasi sumber daya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan siswa secara umum berada pada kategori "Sedang" (Indeks 62,4), dengan skor pengetahuan tinggi namun rendah pada aspek simulasi praktik. Disimpulkan bahwa kurikulum kebencanaan yang ada saat ini masih bersifat kognitif dan belum terinternalisasi menjadi memori otot (muscle memory) melalui simulasi rutin.
Copyrights © 2026