Transisi menuju ekonomi hijau ( green economy ) di Indonesia sering kali terhambat oleh kesenjangan (gap) yang lebar antara inovasi teoretis yang dihasilkan perguruan tinggi dan kebutuhan pragmatis dunia industri. Ketidaksinkronan visi dan mekanisme kerja antara akademisi dan praktisi menyebabkan banyak riset keberlanjutan berakhir sebagai dokumen arsip tanpa implementasi nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan struktural dalam kolaborasi lintas sektoral serta merumuskan model sinergi yang adaptif untuk pengembangan ekonomi hijau. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Grounded Theory , melibatkan 20 partisipan kunci dari unsur dosen peneliti dan manajer keberlanjutan perusahaan di Jawa Timur melalui Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian mengidentifikasi tiga hambatan utama: perbedaan orientasi waktu (time horizon), ketidakjelasan skema hak kekayaan intelektual, dan minimnya insentif kelembagaan. Model "EcoHelix" diusulkan sebagai solusi integratif yang menekankan pada pembentukan laboratorium bersama (joint- lab) dan penyelarasan kurikulum berbasis proyek industri. Disimpulkan bahwa pelembagaan kolaborasi yang formal dan transparan adalah prasyarat mutlak untuk menciptakan ekosistem inovasi hijau yang berdaya saing
Copyrights © 2026