Penggunaan kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, semakin pesat di pendidikan tinggi. Survei global menunjukkan mayoritas mahasiswa memanfaatkannya untuk menulis esai, mencari referensi, dan diskusi akademik. Di Indonesia, data Snapcart–GoodStats (2025) mencatat lebih dari 70% responden menggunakan ChatGPT, menjadikannya AI paling dominan. Meski memberi kemudahan, ChatGPT juga menimbulkan kekhawatiran terkait penurunan berpikir kritis, plagiarisme, dan ketergantungan. Kondisi ini menegaskan perlunya kajian psikologis yang menjelaskan faktor-faktor perilaku pengguna. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh need of achievement terhadap perilaku pengguna ChatGPT dengan kepercayaan sebagai mediator. Metode kuantitatif digunakan dengan kuesioner pada 393 mahasiswa aktif di Kota Makassar, dianalisis melalui JASP dan SPSS 22. Hasil menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori sedang untuk semua variabel. Selain itu, kepercayaan terbukti memediasi pengaruh need of achievement dengan perilaku pengguna ChatGPT, meski hanya sebagai partial mediation, sehingga faktor lain di luar kepercayaan masih berperan penting dalam menjelaskan perilaku penggunaan ChatGPT. Â
Copyrights © 2026